Kisah Abi Kusno: Nyawa, Jahitan, dan Kain Kafan untuk Sang Penjaga Hutan

  • Bagikan

*NadiBerita* Kalimantan yang Berdarah-darah.

Di bawah kanopi hutan hujan tropis Kalimantan yang lebat, tersembunyi sebuah kerajaan yang dibangun bukan dari batu, melainkan dari darah kayu dan air mata bumi. Di jantung Borneo yang sekarat inilah, seorang lelaki bernama Abi Kusno Nachran memilih untuk berdiri.

 

Senjatanya bukan parang atau senapan, melainkan sesuatu yang lebih menakutkan: sebuah pena dan kebenaran yang tak terbantahkan. Ini adalah kisah tentang harga sebuah kata; kisah tentang bagaimana hutan dibungkam dengan bacokan, dan suara kebenaran dibisukan dengan kain kafan.

 

Sebuah Panggilan Jiwa Lahir

 

Abi Kusno Nachran lahir pada 30 Maret 1941 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Sejak kecil, ia menyaksikan paradoks memilukan: tanah kelahirannya yang subur justru sekarat perlahan. Bunyi gergaji mesin dan deru truk mengangkut kayu menggantikan kicauan burung. Sungai-sungai jernih berubah menjadi lumpur coklat, dan masyarakat adat kehilangan sumber kehidupan. Sebuah api pembangkitan mulai menyala dalam dadanya.

 

Dengan kecerdasan dan ketajamannya, Abi memilih jalan paling berbahaya: jurnalisme. Ia bergabung dengan Tabloid Lintas Katolistiwa, media lokal yang berani. Tulisannya bukan tentang gosip selebritas atau politik ibu kota, melainkan tentang luka yang menganga di tubuh Kalimantan: praktik ilegal logging yang merajalela.

 

Setiap artikelnya adalah sebuah eksposé; setiap reportasenya adalah tantangan terbuka terhadap sistem yang korup. Ia tak hanya menulis tentang penebangan liar, tetapi juga mendokumentasikan rantai bisnis haram yang terstruktur rapi dari penebang miskin di pedalaman hutan hingga cukong bermobil mewah dan pejabat berdasi di kota.

 

Membongkar Rantai Naga

 

Investigasi Abi Kusno adalah kerja serius. Bersama lembaga seperti Environmental Investigation Agency (EIA) dan Telapak, ia menyelami bahaya. Mereka menelusuri jejak kayu ramin dan meranti langka yang dicuri dari kawasan suaka Taman Nasional Tanjung Puting (seluas 355.000 hektar). Di sana, ia menemukan sebuah “kerajaan ekonomi bawah tanah”.

 

Abi memetakan piramida kejahatan itu:

 

Para Cukong & Raja Besar: Di puncak piramida berdiri nama-nama seperti Abdul Rasyid, pemilik Tanjung Lingga Group, yang disebut menguasai 90% areal tebangan liar di Tanjung Puting. Kekuasaannya merambah politik hingga ia duduk di kursi MPR.

 

Jaringan Kekuasaan: Bisnis haram ini diwariskan. Sugianto Sabran, keponakan Rasyid, mengambil alih operasi dan pernah menyebut Abi sebagai “pemeras yang beruntung belum dibunuh”.

 

Mata Rantai yang Teratur: Di bawah cukong, ada bos pengumpul, bos desa, hingga bos lapangan yang memimpin 6-10 penebang. Para penebang biasanya pendatang miskin hanya mendapat Rp 50.000-Rp 100.000 per meter kubik, sementara nilai kayu itu mencapai puluhan triliun rupiah per tahun di pasar gelap.

 

Pelabuhan Pengkhianatan: Semua rantai bermuara di Pelabuhan Kumai. Di sini, mekanisme “uang advis perjalanan” (sekitar Rp 5 juta per 100 m³) bekerja sebagai suap sistematis ke oknum Syahbandar, polisi, hingga Dinas Kehutanan, agar kapal-kapal bermuatan kayu curian bisa berlayar ke Surabaya, Semarang, Malaysia, dan Singapura.

 

Abi tak hanya mencatat nama, tetapi juga modus. Setiap tulisannya adalah pukulan telak yang menggoyang fondasi jaringan yang merasa kebal hukum. Ia tahu, setiap kata yang ia terbitkan adalah undangan untuk murka.

 

Saat Mandau Menjadi Jawaban atas Pena

 

Ancaman datang bertubi. Telepon gelap, pesan misterius, dan tatapan mata-mata menghantui hari-harinya. Namun, jawaban terkejam datang pada 28 November 2001 di Pangkalan Bun.

 

Malam itu, sekitar 20 orang bersenjata tajam mandau dan golok mengepung dan menyergap Abi Kusno. Ini bukan perampokan; ini adalah eksekusi terencana. Mereka menginginkan nyawanya dan suaranya. Dalam serangan sadis itu, tubuh Abi dirobek-robek. Mandau diayunkan berkali-kali. Ia menerima 17 tusukan sedalam 4 sentimeter. Empat jari tangan kirinya terputus. Editornya yang mendampingi juga menjadi korban dengan luka robek di perut.

 

Keduanya terkapar, bermandikan darah mereka sendiri. Evakuasi dan pertolongan medis berjalan dalam kepanikan. Untuk menyelamatkan nyawa Abi, dokter berjuang mati-matian. 29 kantong darah dialirkan ke tubuhnya. Luka-luka di sekujur tubuhnya harus ditutup dengan lebih dari 350 jahitan. Empat jarinya yang putus tak dapat disambung lagi; ia harus merelakannya.

 

Namun, ajaibnya, Abi Kusno bertahan. Ia bangkit dari koma dan rehabilitasi. Luka-luka itu menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga kebenaran. Justru setelah tragedi ini, suaranya semakin lantang. Dari tempat tidur rumah sakit, ia menyebut inisial-inisial pelaku yang diduga kuat berada di balik serangan itu: figur S dan AR. Keberaniannya menggelegar.

 

Peti Mati & Teror Kain Kafan

 

Keberanian Abi tidak pudar. Pada 2004, ia memutuskan melawan dari dalam sistem dengan terjun ke politik. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Kalimantan Tengah, berharap imunitas dan jabatan ini memberinya kebebasan bergerak. Namun, ia keliru.

 

Pada 4 Juli 2006, dalam kunjungan kerja ke lokasi penimbunan kayu ilegal di Muara Bulan, seorang penduduk menyodorkan sebuah kotak kepadanya. Kotak itu dibawa ke rapat resmi dengan Gubernur di Palangkaraya. Khawatir berisi bom atau ular, seorang staf diperintah membukanya dengan hati-hati.

 

Isinya membuat ruangan penuh pejabat itu senyap. Di dalam kotak terbaring sehelai kain kafan putih bersih, lengkap dengan gambar mayat dan tulisan tangan: “Jangan bunuh mata pencaharian kami.”

 

Wakil Gubernur Kalimantan Tengah saat itu, Ahmad Diran, menjelaskan: dalam adat setempat, pengiriman kain kafan adalah ancaman kematian tertinggi. Ia meyakini ancaman itu bukan dari rakyat kecil, melainkan langsung dari para cukong yang bisnis haramnya sedang dipersoalkan. Pesannya jelas: “Berhenti, atau kau akan mati.”

 

Kematian yang Tak Pernah Terungkap

 

Ancaman kain kafan itu bukan metafora belaka. Hanya 20 hari setelah kejadian itu, dunia kehilangan Abi Kusno Nachran.

 

Versi resmi menyatakan ia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Jalan Tol Cirebon, Jawa Barat. Versi lain mengatakan ia ditemukan meninggal di sebuah rumah di Cirebon. Bagaimana pun ceritanya, kematiannya diwarnai tanda tanya besar yang menggantung gelap. Bagaimana mungkin seorang pejuang yang selamat dari pembantaian berdarah, seorang anggota dewan terpilih, bisa meninggal begitu saja di tempat yang jauh dari medan perjuangannya?

 

Tidak ada penyelidikan kriminal yang komprehensif. Tidak ada pengadilan yang mengungkap dalang di balik semua penderitaannya. Kasusnya perlahan tenggelam, ditelan waktu. Luka-luka di tubuhnya yang telah menjadi saksi, akhirnya bermuara pada kematian yang penuh misteri. Para pelaku utama yang ia bongkar para cukong dan jaringan kekuasaannya tetap bergerak bebas. Bisnis kayu ilegal terus berdenyut.

 

Semangat yang Tak Bisa Dibunuh

 

Abi Kusno Nachran pergi. Ia meninggalkan keluarga dan rekan seperjuangan yang trauma. Ia meninggalkan tubuh dengan lebih dari 350 jahitan dan tangan tanpa empat jari. Ia juga meninggalkan pertanyaan besar: seberapa besar komitmen kita melindungi pahlawan yang membela kedaulatan dan kelestarian negeri ini?

 

Kisahnya adalah potret tragis konflik abadi antara keserakahan dan hati nurani, antara uang dan lingkungan, antara kekuasaan dan suara rakyat. Dari ratusan jahitan hingga kain kafan di ruang rapat, dan akhirnya kematian misterius, Abi mengajarkan: Kebenaran itu mahal, harganya bisa darah, jari, dan nyawa.

 

Namun, semangatnya tidak akan padam. Setiap pohon yang masih tegak di Kalimantan, setiap suara jurnalis yang memberitakan ketidakadilan, adalah gema keberanian lelaki dari Pangkalan Bun yang melawan naga hanya dengan pena. Ia gugur, tetapi tinta kebenarannya abadi.

 

Demi Abi, dan demi Kalimantan yang masih tersisa, kita tidak boleh lupa.

Sumber: INI UNIK

Pewarta: Dedek S

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *