Empat Warga Meninggal di Dalam Kolam, Polisi Datangi TKP dan Beri Klarifikasi

  • Bagikan
Empat Warga Meninggal di Dalam Kolam, Polisi Datangi TKP dan Beri Klarifikasi

NANGA TAYAP, KETAPANG, KALIMANTAN BARAT
Peristiwa meninggalnya empat warga yang ditemukan di dalam sebuah kolam atau sumur di Dusun Bayangan, Desa Mensubang, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 31 Agustus 2026, menjadi perhatian publik.

Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan setelah sejumlah pemberitaan menyebut lokasi kejadian berkaitan dengan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Informasi yang beredar menyebut empat korban meninggal dunia setelah berada di dalam lubang atau kolam yang diduga memiliki kondisi minim oksigen.

Berdasarkan informasi yang diterima, keempat korban merupakan warga Dusun Bayangan, Desa Mensubang. Mereka dilaporkan mengalami kecelakaan di dalam kolam hingga akhirnya meninggal dunia.

Kapolsek Nanga Tayap, Iptu Nababan, saat dikonfirmasi awak media pada 4 September 2026 melalui pesan WhatsApp, baru memberikan respons pada Sabtu, 5 September 2026 sekitar pukul 11.30 WIB. Selanjutnya, Kapolsek memberikan penjelasan melalui sambungan telepon WhatsApp.

Iptu Nababan membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa setelah menerima laporan masyarakat pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, dirinya memerintahkan Kanit Intelkam bersama sejumlah personel Polsek Nanga Tayap untuk mendatangi lokasi kejadian.

Saat laporan diterima, Kapolsek mengaku masih berada di lokasi kegiatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah kegiatan tersebut selesai, dirinya kemudian turut mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pengecekan serta mendatangi rumah duka.

Terkait penyebab kejadian, Kapolsek Nanga Tayap memberikan penjelasan berbeda dengan informasi yang sebelumnya beredar di sejumlah media.

Menurut Iptu Nababan, keempat korban bukan sedang melakukan aktivitas PETI. Ia menyebut para korban berada di lokasi untuk mengambil air dari sumur sebagai dampak kemarau panjang yang terjadi.

“Bukan melakukan kegiatan PETI, tetapi mengambil air di dalam sumur karena dampak kemarau panjang,” jelas Iptu Nababan saat dikonfirmasi.

Kapolsek juga menyampaikan bahwa langkah-langkah yang dilakukan jajaran Polsek Nanga Tayap dalam menangani kejadian tersebut telah dilakukan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP).

Pihak kepolisian, kata dia, sempat merencanakan proses autopsi dan visum terhadap para korban. Namun, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi maupun visum. Penolakan tersebut, menurut Kapolsek, telah dituangkan dalam surat pernyataan dan ditandatangani oleh pihak keluarga korban.

Pihak keluarga juga disebut telah menerima serta mengikhlaskan kepergian keempat korban.

Meski demikian, munculnya sejumlah informasi berbeda mengenai lokasi dan aktivitas para korban sebelum kejadian membuat kasus tersebut menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, lokasi kejadian disebut-sebut berkaitan dengan aktivitas PETI dan terdapat informasi mengenai penggunaan alat bantu pernapasan serta mesin Robin.

Perbedaan informasi tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi maupun polemik di tengah masyarakat.

Awak media berharap Polsek Nanga Tayap maupun Polres Ketapang dapat memberikan klarifikasi secara terbuka melalui keterangan resmi kepada publik mengenai kronologi kejadian, kondisi lokasi, aktivitas para korban sebelum kejadian, serta hasil langkah-langkah kepolisian yang telah dilakukan.

Keterbukaan informasi dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak hanya berdasarkan kabar yang beredar di media sosial maupun pemberitaan yang belum terkonfirmasi.

Peristiwa meninggalnya empat warga tersebut menjadi perhatian serius, sekaligus mengingatkan pentingnya aspek keselamatan dalam setiap aktivitas di lokasi yang memiliki risiko kekurangan oksigen, terlebih pada lubang atau kolam bekas aktivitas pertambangan.

Hingga berita ini disusun, keterangan mengenai penyebab pasti kematian para korban masih mengacu pada informasi yang disampaikan pihak kepolisian dan keluarga, sementara klarifikasi lebih lanjut mengenai kondisi lokasi serta dugaan keterkaitan dengan aktivitas PETI masih diperlukan.

Editor: Tim

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *