Pelatihan yang diselenggarakan PT Sempinur Bunga Energi (PT SBE) bekerja sama dengan Manggala Agni, brigade khusus pengendalian kebakaran hutan dan lahan di bawah Kementerian Kehutanan, ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan penyerahan peralatan dan komitmen bersama yang dilaksanakan pada 3 Agustus 2026.
Program tersebut berfokus pada penguatan kesiapan praktis perwakilan desa dalam mengenali risiko kebakaran, menyampaikan informasi dengan cepat, serta melakukan penanganan secara aman.
Selama tiga hari, peserta mempelajari bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla tidak hanya terbatas pada upaya memadamkan api. Pencegahan dimulai dengan memahami risiko, mengenali tanda-tanda peringatan dini, menyampaikan informasi melalui jalur pelaporan yang tepat, serta memahami cara bekerja secara aman dalam sebuah tim.
Pelatihan diawali dengan sesi kelas yang membahas kebijakan dan peraturan kehutanan, pengetahuan dasar mengenai kebakaran, serta perilaku api. Peserta mempelajari bagaimana angin, kondisi cuaca, vegetasi kering, dan kondisi lahan dapat memengaruhi muncul dan meluasnya kebakaran.
Peserta juga membahas dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, kehidupan sosial, dan perekonomian, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan gambut.
Program kemudian dilanjutkan dengan materi peringatan dini dan deteksi dini. Peserta diperkenalkan dengan berbagai cara praktis untuk mengamati kondisi lapangan, mengenali tanda-tanda kebakaran, serta menyampaikan informasi melalui jalur pelaporan yang sesuai.
Pada sesi akhir, peserta mengikuti latihan lapangan untuk mempelajari cara membentuk tim penanganan, membagi tanggung jawab, mengenali berbagai jenis peralatan, serta menentukan metode pemadaman yang sesuai.
Peserta terlebih dahulu mengikuti simulasi kering untuk melatih pergerakan tim, komunikasi, dan penggunaan peralatan. Setelah itu, mereka mengikuti simulasi basah dengan menggunakan pompa air dan peralatan pemadaman lainnya dalam kondisi lapangan yang disimulasikan.
Agus Heru, Instruktur Daops Manggala Agni Kalimantan XI/Sintang menjelaskan bahwa penanganan karhutla yang efektif membutuhkan pemahaman terhadap seluruh proses, bukan hanya kemampuan menggunakan peralatan pemadaman.
“Penanganan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya soal memegang selang atau mengoperasikan pompa air. Peserta perlu memahami perilaku api, keselamatan diri, koordinasi tim, dan komunikasi yang jelas,” jelas Agus
“Melalui latihan ini, para peserta mempraktikkan setiap tahapan, mulai dari menerima informasi, menilai situasi, mengoperasikan peralatan secara aman, hingga memantau kembali area setelah api berhasil dikendalikan,” lanjutnya.
Jusman, salah seorang peserta dari Desa Penepian Raya menyambut baik pelatihan praktis tersebut karena dinilai dapat membantu memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa.
“Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada perwakilan desa dalam membentuk tim, berkomunikasi dengan jelas, serta menggunakan peralatan secara aman. Kami berharap para peserta dapat membagikan pengetahuan ini kepada masyarakat lainnya agar semakin banyak warga memahami apa yang harus dilakukan ketika menemukan risiko kebakaran,” ujar Jusman.
Kebakaran lahan gambut merupakan salah satu risiko utama yang dihadapi masyarakat dan kawasan konservasi di Kapuas Hulu. Berbeda dengan kebakaran di tanah mineral, api pada lahan gambut dapat membakar material organik kering di bawah permukaan tanah sehingga titik api sulit ditemukan dan dipadamkan sepenuhnya.
Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan, deteksi dini, dan pelaporan cepat menjadi sangat penting. Ketika masyarakat mampu mengenali risiko dan segera melaporkannya, peluang untuk mengendalikan kejadian sebelum api meluas menjadi lebih besar.
Syamsul Fikar, Head of Community Engagement PT SBE, menekankan pentingnya menggabungkan pengalaman teknis Manggala Agni dengan pengetahuan lokal masyarakat yang mengikuti pelatihan.
“Masyarakat berada di wilayah tersebut setiap hari dan sering kali menjadi pihak pertama yang melihat asap, kondisi lahan yang mengering, atau perubahan lainnya di lapangan,” kata Syamsul.
“Dengan menggabungkan pengetahuan lokal masyarakat dan panduan praktis dari Manggala Agni, tim desa dapat menjadi lebih percaya diri dan lebih siap melakukan penanganan secara aman. Latihan secara berkala juga penting agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan ketika dibutuhkan,” lanjutnya.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Borneo Revive, proyek konservasi dan restorasi lahan gambut jangka panjang yang dijalankan PT SBE di Kapuas Hulu, dalam bentang alam Jantung Kalimantan atau Heart of Borneo.
Proyek ini mencakup lebih dari 48.000 hektare hutan tropis yang sebagian besar berada di kawasan lahan gambut. Kegiatannya meliputi pencegahan kebakaran, pemantauan tinggi muka air, pembangunan sekat kanal, patroli hutan dan batas kawasan, pemantauan keanekaragaman hayati, restorasi, serta penanaman kembali di area yang mengalami degradasi.
Masyarakat terlibat melalui tim pemadam kebakaran desa, kegiatan patroli dan pemantauan, serta peluang kerja bagi warga setempat. Pelatihan ini mendukung pendekatan berbasis masyarakat tersebut dengan memperkuat pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesiapan praktis desa-desa yang menghadapi risiko kebakaran.
Program ditutup dengan evaluasi praktik yang mencakup koordinasi tim, kesiapan peralatan, dan keselamatan diri. Dengan menggabungkan pengalaman teknis Manggala Agni, dukungan program dari PT SBE, serta pemahaman masyarakat terhadap kondisi setempat, pelatihan ini memperkuat pendekatan bersama dalam mencegah dan menangani risiko kebakaran hutan dan lahan.
Ketika seluruh kekuatan tersebut dipadukan, risiko dapat dikenali lebih awal, informasi dapat disampaikan lebih cepat, dan kejadian kecil dapat dicegah agar tidak berkembang menjadi kondisi darurat yang lebih besar.
Penulis / Editor : Wirahadikusumah,SH












