Pontianak, kalbar // Nadi berita.id — 21 Oktober 2025. Dalam suasana hangat, teduh, dan penuh khidmat, Pimpinan Suara Tepi Kapuas, Eddy Hariady, bersama Ketua Dewan Pimpinan Wilayah I Kalbar Barisan Patriot Bela Negara, Yan Lipan, bersilaturahmi dengan Yang Mulia Sultan Pontianak, Syarif Melvin Alkadrie, S.H.
Pertemuan bersejarah di tepian Sungai Kapuas ini bukanlah ajang politik, melainkan ruang kontemplasi kebangsaan — sebuah upaya mulia untuk menggali kembali akar sejarah dan memulihkan jati diri Kalimantan Barat dalam bingkai keindonesiaan yang beradab dan berdaulat.
Dari dialog berwawasan kebangsaan tersebut, mengemuka satu gagasan monumental:
mengubah nama Bandara Internasional Supadio menjadi Bandara Internasional Sultan Syarif Abdurrahman.
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah pendiri Kota Pontianak dan Kesultanan Kadriah pada tahun 1771 — sosok pemimpin visioner yang meletakkan dasar peradaban, persaudaraan, dan spiritualitas di bumi Kalimantan Barat.
Mengabadikan namanya bukan sekadar penghormatan simbolik, tetapi pengembalian marwah sejarah dan penegasan nilai kebangsaan di hadapan dunia internasional.
Menurut Eddy Hariady, perubahan nama ini bukan hanya keputusan administratif, melainkan transformasi citra dan nilai kemuliaan Pontianak.
Nama Sultan Syarif Abdurrahman memiliki resonansi kuat — membawa kebanggaan historis, spiritual, dan budaya yang sejajar dengan ikon-ikon kebangsaan seperti Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar dan Sultan Iskandar Muda di Aceh.
Kini, sudah waktunya Pontianak berdiri tegak dalam deretan kota bersejarah Nusantara yang dihormati dunia.
Bagi Yan Lipan, bandara bukan sekadar terminal udara, melainkan gerbang simbolik di mana sejarah bertemu masa depan. Ia menegaskan,
> “Gagasan ini bukan lahir dari kepentingan politik, tetapi dari nurani sejarah dan semangat nasionalisme kultural.”
Nama besar Sultan Syarif Abdurrahman, lanjutnya, adalah penanda persatuan dan kebangkitan kesadaran generasi muda — agar mereka mengenali tanah kelahirannya dengan rasa bangga, hormat, dan tanggung jawab.
Yang Mulia Sultan Syarif Melvin Alkadrie, S.H., menyambut dengan ketulusan Beliau menuturkan,
> “Setiap nama yang diabadikan memanggul jiwa, doa, dan amanah moral. Jika nama Sultan Syarif Abdurrahman disematkan pada bandara,
itu bukan semata kebanggaan keluarga Kesultanan Kadriah, melainkan kebanggaan seluruh masyarakat Kalimantan Barat.
Sebab di dalam nama itu hidup nilai sejarah, budaya, dan persaudaraan yang abadi.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap pendiri bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan peneguhan identitas moral bangsa.
Gagasan besar ini membuka jalan bagi pendidikan karakter kebangsaan.
Dalam arus global yang kian cepat dan sering melupakan akar, pengenalan terhadap tokoh pendiri daerah menjadi benteng identitas dan moralitas nasional.
Nama bandara bukan sekadar penanda lokasi, tetapi prasasti nilai yang menyapa setiap penumpang dan mengingatkan bahwa:
> “Setiap langkah menuju langit harus berpijak di bumi sejarahnya.” Seruan dari Tepi Kapuas
Dari tepian Sungai Kapuas yang mengalir lembut namun tegas, mengemuka suara rakyat yang jernih dan tulus:
> “Kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto serta jajaran pemerintah pusat, dengarkanlah suara Tepi Kapuas ini — suara yang lahir dari nurani sejarah dan cinta tanah air.
Jangan abaikan warisan luhur yang telah menuntun lahirnya peradaban di barat Nusantara.
Jadikanlah penggantian nama Bandara Supadio menjadi Bandara Sultan Syarif Abdurrahman sebagai langkah kenegaraan yang bijaksana —
langkah yang meneguhkan penghormatan terhadap pendiri kota, menyalakan semangat kebangsaan, dan menautkan masa lalu yang agung dengan masa depan Indonesia yang berdaulat.”
Pertemuan di tepi Kapuas ini bukan sekadar perbincangan, melainkan titik tolak kesadaran baru. Dari tempat lahirnya Pontianak, mengalir pesan yang melintasi zaman:
> “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pendirinya,
dan dari tepi Kapuas, semangat sejarah itu akan terus menyala untuk Indonesia.”
Tim. Redaksi NadiBerita.id — Sy.Mulyadi, Pontianak














